Kamis, 25 Agustus 2016

Ahlak Ulama Ahlussunah Wal Jamaah al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jedah





Ahlak adalah alasan mengapa Rasulullah saw di utus di muka bumi. Ilmu saja tidaklah cukup untuk bisa berislam secara Kaffah, tanpa ahlak ilmu bisa menjadi pedang yang begitu mudah melukai orang lain, bahkan melukai diri sendiri. Banyak kejadian demikian kita saksikan belakangan ini. Dimana begitu mudahnya satu orang mengkafirkan yang lain, mudah menuduh bid'ah, dan sejenisnya. Begitu mudah kelompok satu mengolok-olok kelompok lainnya bahkan dengan bahasa yang dikemas suci "kembali ke Quran dan Sunnah". Contoh penerapan ahlak sangat minim dewasa ini, dikarenakan sumber pencarian ilmu sudah semakin jauh, jauh dari berkhidmat kepada guru, jauh dari kajian muamalah, jauh dari kajian otentik ulama generasi salafunassholeh, bahkan sudah jauh dari akar budaya bangsa Indonesia yang dikenal santun, lembut, dan bersahabat. Di zaman yang serba dekat dengan adanya Internet, orang begitu mudah belajar islam, namun minim pengamalannya. Kenapa?, yang menjadi gurunya adalah Google, Streaming, dan Youtube. Generasi sekarang banyak yang enggan datang ke majelis yang membacakan kitab "kuning" yang mengkaji bab ilmu tertentu sampai tuntas dengan matan, syarah, dan tafsir yang terkenal "njilemet". Generasi sekarang suka yang instan, lupa bahwa esensi belajar Islam haruslah dengan guru yang membimbing ilmu, membimbing akhlak, adab, muamalah bermasyarakat, dan sejenisnya.

Berikut coba saya ajak menilik bagaimana ahlak ulama terdahulu, ahlul baitnya Rasulullah saw, bagaimana reakinya ketika dicaci-maki oleh orang "kurang adab". Semoga bisa mencontoh beliau, aamiin.

Al-Alim al-Allamah al-Arif Billah al-Habib Abu Bakar al-Adni pernah bercerita tentang sang guru, al-Quthb al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jedah. Ketika al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf mengajar di Ashar bulan Ramadhan pada tahun 1407/1408 H, kita duduk dan al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf mengajar. Selesai mengajar, tiba-tiba muncul seseorang dari golongan mereka lalu berdiri dan mencaci-maki al-Habib Abdul Qadir di depan kita semua. 

Waktu orang ini berdiri, dia mencaci-maki al-Habib Abdul Qadir, mencaci-maki orang tua kita, mencaci-maki kitab yang kita baca pada saat itu dan orang ini juga mencaci-maki qasidah yang kita baca. Kemudian orang tersebut mengatakan, “Orang ini (maksudnya al-Habib Abdul Qadir) tidak mau shalat berjamaah di masjid kami, orang ini jelas-jelas munafik!” Dan ketika orang tersebut berbicara seperti itu, ada kurang lebih 200 orang dari Ahlul Bait Nabi Saw. yang duduk mendengar ucapan itu dan masih banyak orang-orang lainnya yang kita tidak bisa berbuat apa-apa tatkala orang berbuat seperti itu. 

Setelah orang itu berdiri, berbicara yang begitu ngerinya dan ia pun duduk. Lalu al-Habib Abdul Qadir hanya mengatakan, “Barakallahu fik wa jazakallah khair” (Terimakasih banyak, mudah-mudahan Allahu Swt. membalasmu dengan balasan yang sebagus-bagusnya). Kemudian al-Habib Abdul Qadir membaca al-Fatihah dan membubarkan majelisnya. Saya (al-Habib Abu Bakar al-Adni) melihat bahwa al-Habib Abdul Qadir tidak marah sama sekali, tidak membalasnya sama sekali, dan tidak berbuat apa-apa sama sekali. Bahkan saya lihat wajahnya pun tidak berubah. Justeru yang saya lihat beliau hanya menundukkan pandangannya ke bawah. Masya Allah 

Tabarakallah! (Kisah al-Habib Abu Bakar al-Adni saat di Jabal Tawangmangu, Surakarta, Kamis 28 Mei 2015. Sumber: Pustaka Pejaten).


Senin, 22 Agustus 2016

Analisa Masalah dalam Kelompok




Ketika berinteraksi dengan team dalam satu perusahaan memang menantang, khususnya jika perusahaan tempat Anda bekerja sangat “mobile” dalam perubahan struktur organisasinya. Banyak divisi atau departemen yang baru, berikut juga dengan anggota team yang baru. Nah timbul pertanyaan, bagaimana bekerja dengan kondisi tersebut, apalagi anda dihadapkan dengan beberapa masalah yang pelik, yang perlu diselesaikan segera. Project Dewa, short time preparation to build a huge project ?

Just keep calm and follow up your job, periodically. Yaa, benar, memang dalam situasi seperti ini, anda sebagai leader, ataupun team member harus bisa se fleksibel mungkin dalam menyikapi perubahan yang ada. Jangan terlalu kaku, jangan juga terlalu menyepelekan perubahan tersebut, yaa, anda harus jadi Addaptive Leader!. Anda harus belajar mengenal karakter team satu persatu, gali potensi dari masing-masing, dekatilah secara personal & profesional, ciptakan suasanya yang nyaman dalam lingkungan perkerjaan anda dulu, sebelum follow up dengan divisi atau departemen lain. Tangkap dan pancing ide muncul dari team anda, berilah kebebasan dalam menyampaikan pendapat, namun tetap andalah leadernya. 


Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan, yaitu preferensi dan group thinking.    

1. Preferensi
Adalah cara dominan yang digunakan oleh seseorang dalam melakukan, menganalisa, dan menyikapi sesuatu. Hal tersebut adalah alamiah, dan bisa dibentuk.

Model preferensi yang sering muncul adalah:
·       Extraversion (senang sosialisasi) vs Introvert (senang sendiri)
Orang extraversion lebih mendapatkan energi dalam bekerja, berfikir dan menganalisa dengan berinterkasi. Dia akan sangat nyaman berinteraksi dengan siapapun, manfaatkanlah tallent ini untuk achor project/analysis karena type orang seperti ini biasanya banyak kawan, banyak informasi yang bisa didapatkan. Lain halnya dengan type orang introvert yang cenderung suka kesendirian, mereka nyaman dan terbiasa bekerja sendiri dan jarang membutuhkan bantuan dari tim/orang lain. Ide-ide brilian biasanya muncul ketika bekerja mandiri, dibandingka bekerja dengan team. Anda sebagai seorang leader, berilah delegation project kepada type introvert, untuk membangun kepercayaan diri kepada yang bersangkutan, berilah penghargaan dan ucapan “good job” ketika masalah/project tersebut rampung dengan sukses.

·       Sensing (logis) vs intuition (berdasarkan pengalaman/langsung membuat kesimpulan)
Cara mendapatkan informasi type orang sensing adalah logis, analisis dan penelitian yang komprehensif, lain halnya dengan tipe intuition, dia akan lebih mundah menyikapi sesuatu dikarenakan pengalaman, atau informasi serupa yang dengan cepat ia ambil kesimpulan. Anda sebagai leader harus bisa memanfaatkan dari kedua tipe tallent tersebut

·       Thinking (mengutamakan hal logis, realistis) vs Feeling (hal abstrak, empathy)
Cara memutuskan type thinking mengutamakan hal logis dan realistis, sedangkan tipe feeling lebih identik dengan empathy, perasaan dan hal abstrak, penuh dengan pertimbangan dari segi emosional.

·       Judging (apa adanya) vs Perceiving (menurut diri sendiri)
Cara melihat dunia luar sangat berbeda antara tipe judging yang apa adanya, kadang terkesan polos, spontan dan lebih humble. Dalam mengambil keputusan/menganalisa masalah tipe ini sangat objektif, fair dan bisa diandalkan. Sendagkan perceiving mengandalkan persepsi pribadi yang dominan, sedikit sekali mempunyai sifat terbuka akan hal/ide baru yang muncul. Type ini juga dibutuhkan dalam memimpin team yang memerlukan ketepatan, kedisiplinan yang tinggi. Meskipun sedikit keras, namun sebenarnya sangat bertanggung jawab, asalkan anda sebagai leader bisa memposisikan ia dengan benar dan tepat.

Poses pemecahan masalah sensing & Intuition sangat dibutuhkan dalam proses Analisa sedangkan Thinking & Feeling dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan. Hal yang perlu diperhatikan, dalam pemecahan masalah seharuskan hindari preferensi anda, lihatlah sesuatu dengan objektif dan validitas data penunjang yang cukup.

2. Group Thinking
Bisa jadi sesuatu hal kebenaran dalam kelompok kohesif (tidak ada yg berargumen, tidak ada kritis yang logis) proses pembuatan keputusan biasanya banyak mengalami kesalahan.
Kohesif perlu dalam teamwork, namun dalam proses analisa dan pengambilan keputusan bisa jadi berlawanan arah yang menjerumuskan.

3 Penyebab yang sering muncul diantaranya :
·       Over estimate, terlalu mengandalkan individu tertentu
·       Fanatisme "kita"  selalu benar vs "mereka"
·         Tekanan terhadap konformitas >> biasanya terjadi di usia SMP/SMA (merasa pengen ikut kelompok/kominitas/gaya ikut-ikutan)


Sekian seri teknik analisa masalah dari segi menyikapi keunikan tim dalam kelompok 




Tips Menyampaikan Presentasi dengan Baik



Banyak dikalangan professional, pengusaha, mahasiswa bahkan pelajar sekolah yang masih bingun bagaimana menyiapkan, menyampaikan presentasi mereka dengan baik. Pengalaman saya sendiri pun demikian, banyak konsep yang keren, banyak konten yang menarik, namun jika saat presentasi nge-BLANK, dijamin hancur semua keseluruhan presentasi yang dibuat. 

Nah seiring dengan semakin berpengalaman, sering berbicara di depan publik, sering berdiskusi terbuka dengan rekan, teman, bahkan expertise asing semakin mengubah midset saya, yaa, benar pertama adalah kita harus bebas dulu, pikiran harus terbuka dan rileks. Benar kata atasan saya, beliau pernah sharing pesan lewat WA dari professional & public speaker terkemuka Bpk. Pambudi Sunarsihanto, beliau cerita panjang lebar :  Ternyata memang banyak talent talent kita yang punya potensi bagus, performance nya bagus, tapi masih ada gap di dalam confidence, communication and presentation skills”





Akibatnya mereka susah "menjual" ide mereka ke management. Padahal in all our job, we all sell our ideas. Kita semua menjual ide. Dan untuk itu kita harus mengemas dalam presentasi yang menarik agar kita mampu meyakinkan (convince) mereka untuk menjalankan idea mereka. And that is the power of presentation skills.

And please .... jangan ada yang bilang bahwa ada temannya yang cuma jago presentasi tetapi sebenarnya gak ngerti banyak.


Sekarang kita harus jago semuanya.
Konsep harus ngerti, presentasi harus jago, dan juga harus mampu implementasi .

Yang ini saya ulang ya , karena penting banget ....
1) Konsep ngerti
2) Presentasi jago
3) Mampu implementasi

Nah sayangnya banyak talent talent kita yang ngerti konsep dan jago implementasi, tetapi kurang bisa presentasi.


Akibatnya mereka susah meng-convince management tentang ide mereka.
Dan lambat laun ini tentunya akan mempengaruhi prestasi dan performance mereka.

Now you understand why presentation skills is very important for your career.

Jadi bagaimana dong...
Well, you can follow these 5 golden rules ...
1. Great opening
2. Explain the WHY
3. Describe the WHAT
4. Give EXAMPLES
5. Make the CONCLUSION

1. Great Opening
Ingat kita semua sibuk di pekerjaan. Hari hari kita seringkali boring, tenggelam dalam monotonie dan mengejar pressure dan objective yang harus kita capai.
Kalau anda datang dengan presentasi yang boring kita akan ngantuk dan tertidur lelap.
Your first one minute should be eye-catching dan interesting.
Bawa fakta yang menarik, simple and light joke atau slide yang membuat orang ingin melihat, tertarik dan tersenyum.


Jangan vulgar, jangan desesperately seek attention, but something simple and light just to catch your attention.

2. Explain the WHY
Then you explain why what you will present is important.
Share some facts that support your argument.
Seorang teman saya pada saat menerangkan tentang Operational risk, memulai dengan sharing tentang berapa kerugian financial perusahaan pada saat operational risknya ter-compromised.
Seorang teman saya yang lain menggambarkan nilai kerugian sebuah perusahaan pada saat attrition rate nya mencapai 10 persen per tahun.
Search, analyze and present those facts.

3. Describe the WHAT
After the opening and the why, you can continue with the WhAT.
Stick to the points. Be brief, keep it short.
Nothing kills a presentation like a long and boring serie of slides.
Singkat, cepat, padat, fokus, dan langsung ke sasaran yang tepat (lho... memangnya panahan?).

4. Give EXAMPLES
Remember , mereka harus mengerjakan sesuatu setelah presentasi anda (anda kan menjual ide ke mereka).
Jadi mereka harus benar benar mengerti apa yang harus dilakukan.
Makanya anda harus memberikan contoh-contoh agar mereka semakin jelas.
Make sure they understand what needa to be done after that.

5. Make the CONCLUSION
Nah, di akhir presentasi tetap harus ada kesimpulan da summary...
- apa yang disepakati
- apa yang harus mereka kerjakan
- bagaimana progressnya akan dimonitor

By the way, the biggest mistake is to close a presentation with Question and Answer. Dont do that.
Kalau anda tidak bisa menjawab pertanyaan ya kan you will close with something negative.
Kalau ada Q&A do it in the middle. And close on a strong note with a good conclusion.

So, ingat baik baik ya the 5 golden rules of a good presentation
1. Great Opening
2. Explain the WHy
3. Describe the WHAT
4. Give EXAMPLES
5. Make the CONCLUSION

Last but not least, remember
1. Rehearse
2. Rehearse
3. And rehearse again

Ingat presentation skills adalah sesuatu yang di asah.
Jadi tidak ada rahasia untuk sukses dan bisa memperbaikinya selain dari :
1. Latihan
2. Latihan
3. Dan latihan lagi

Sumber WA: Pambudi Sunarsihanto*