Sabtu, 23 Mei 2015

Mengenal Teknologi HFC (Hybrid Fiber Coaxial)


Mengenal Teknologi HFC

Melanjutkan sesi selanjutnya dari tulisan “Perkembangan Teknologi TV Kabel Terkini” kali ini saya akan coba kupas teknologi HFC (Hybrid Fiber Coaxial) yang banyak dipakai oleh penyedia layanan TV berbayar atau PayTv  diseluruh dunia.

Diambil dari manual handbook Teknik Elektro - STT Telkom berikut penjelasan detailnya dan coba saya sederhanakan penjelasanya agar mudah dipahami. Sebelum menganjak lebih jauh tentang HFC.

Jenis layanan yang bisa dibawa oleh HFC adalah sebagai berikut.


Broadcast analogue services:
        Broadcast TV analog.
        Broadcast audio analog.
Digital broadcast services:
        Digital Video Broadcast (DVB): video, audio, data.
        Near Video on Demand (NVoD)
        Pay per view Service.
        Pay per Channel Service.
Cable Telephony based on Packet Cable
High Speed data Services:
        Fast Internet Access
        Data Over Cable Services
        Community LAN Services
   Interactive Multimedia Services
        Video On Demand.
        Karaoke On Demand.
        Audio On Demand.
        Interactive Games. Dan masih banyak lagi

Pengertian HFC
        Jaringan transmisi broadband yang merupakan gabungan dari sistem transmisi optik sebagai transport dan kabel coaxial sebagai saluran distribusi ke pelanggan.
        Dapat diupgrade sesuai dengan kebutuhan layanan dan penetrasi pelanggan, seperti misalnya jumlah dan macam layanan yang diinginkan pelanggan.
        Menyediakan Integrated services baik broadcast maupun interaktif bagi pelanggan TV Cable.
-   Jenis layanan lebih beragam, berupa;  video, Telepony, internet dan lainnya, untuk pelanggan residential, recreational, private institution, pusat bisnis, dll

Alokasi Spektrum Frekuensi HFC


Kanal Downstream & Upstream
Downstream Upstream
Band frekuensi yang digunakan mengirimkan informasi (TV analog, TV digital, Telepon, Data, VoD) dari Headend ke pelanggan.  Rentang frekuensi yang digunakan oleh sinyal downstream adalah  47/51/71/88 - 862 MHz. Band frekuensi yang digunakan mengirimkan informasi (telepon, data, Network management) dari pelanggan ke Headend.  Normalnya pada rentang  5 - 42 MHz untuk sistem US dan rentang 5 - 65 MHz untuk sistem Eropa.

Kapasitas Informasi  
        Kanal televisi standar mempunyai spektrum RF 6 MHz.
        Sistem kabel tradisional dengan bandwidth down-stream 400 MHz  ( 50 - 450 MHz) bisa menyalurkan 60 kanal TV analog
        Untuk sistem HFC dengan bandwidth downstream 700 MHz  (50 - 750 MHz) bisa menyalurkan 110 kanal TV analog.
        Satu kanal TV downstream  bisa digunakan untuk data kecepatan 27 Mbps dengan modulasi 64QAM dan bisa ditingkatkan sampai kecepatan 36 Mbps dengan modulasi 128QAM.
*   Kanal upstream bisa mengirim data  500 kbps - 10 Mbps dari pelanggan-pelanggan menggunakan modulasi 16QAM atau QPSK (bergantung pada besar spektrum yang dialokasikan untuk layanan)

Jaringan HFC
        Jaringan HFC dikembangkan dari sistem distribusi kabel coaxial yang digunakan pada industri CATV.
        Transmisi Serat Optik berfungsi sebagai Trunking.
        Kabel coaxial digunakan untuk distribusi ke jaringan pelanggan-pelanggan.
        Jaringan kabel Serat Optik mempunyai bentuk Star atau Ring.
        Jaringan kabel Coaxial mempunyai bentuk Tree/Branch.
        Jaringan HFC dirancang tidak hanya mendistribusikan layanan program TV tetapi juga untuk layanan data, telepon dan multi-media.
        Sinyal yang dikirim dari Headend ke Pelanggan disebut sinyal Downstream, sedangkan sinyal yang dikirim dari Pelanggan ke Headend disebut Upstream (return path).
        Jaringan HFC dikelola dan dikontrol dengan sistem CMTS.

Model Jaringan HFC


Konfigurasi Jaringan HFC




Segmentasi Jaringan HFC

Segmentasi Jaringan HFC
1.      Optical Transport
ü Disebut “Optical Transport Link”.
Mampu melewatkan beban penuh sinyal melalui jarak  48 s/d 65 km tanpa mengalami degradasi yang berarti
ü Biasanya untuk Analog ; tetapi bisa juga untuk Digital.
ü Khususnya untuk hubungan Jarak Jauh.
ü Mengirimkan sinyal dengan kualitas mendekati kualitas Headend diperlukan untuk segmen ini untuk melayani 10.000 pelanggan atau lebih bergantung dari link ini.
2.      Optical Distribution
ü Teknologi Optik Analog dan digital
ü Link dengan jarak pendek, biasanya radius sekitar 3,2 km, sehingga link Hub-ke-Node mempunyai rentang 3,2  s/d 6,5 km.
ü Untuk saat ini, link ini kebanyakan menggunakan laser Amplitudo Modulasi (AM).
ü Penyisipan suplai tegangan (power inserter) untuk Coaxial Amplifier
ü Mengirimkan sinyal Analog RF ke Jaringan Coaxial.
3.      Coaxial Distribution
Arsitektur jaringan coaxial dirancang dengan nama berbeda :
-          Fiber-to-Feeder (FTF)

-          Fiber-to-the-Serving Area (FSA)

-          Optical Serving Area (OSA)

 4. Sistem Distribution

Jaringan coaxial terdiri dari tiga segment:
-          Trunk
     a. Menyalurkan sinyal dari Fiber Node ke Distribusi  Coaxial.
b. Cakupan service area < 600 meter.
c. Struktur jaringan trunk bisa dikembangkan.
d. Mempunyai penguatan (gain) 28 - 31 dB.


-          Bridger
a.       Bridger amplifier berfungsi untuk menguatkan dan mendistribusikan sinyal amplifier trunk ke beberapa jaringan pelanggan.
b.      Biasanya bridger amplifier menyatu dengan  trunk amplifier dalam satu blok amplifier.
c.  Bridger amplifier mempunyai nilai gain maksimum 37 dB.



-          Line Extender
a.       Merupakan amplifier terakhir yang akan mensuplai sinyal ke pelanggan-pelanggan melalui Tap.
b.      Amplifier Line Extender biasanya tipenya sama dengan amplifier Bridger mempunyai nilai output level yang besar (Gain maksimum 35 dB).


-   Jaringan Drop pelanggan
Menghubungkan terminal pelanggan dengan sistem feeder dan terbagi atas dua bagian :
o   Outside wiring
o   Inside wiring


Element Jaringan HFC
1)     Head End
Berfungsi
mengumpulkan dan mengolah informasi (broadcast kanal TV, telepon, data, VOD) dari bermacam-macam sumber (satelit, microwave, studio, sinyal off air) untuk didistribusikan ke pelanggan-pelanggan melalui jaringan. Headend merupakan pusat operasi dan administrasi jaringan HFC.
Terdapat 3 fungsi utama Headend :
        Pusat Pengendalian
        Reception (dari berbagai sumber)
        Conditioning (Modulasi, Converter, dll)
        Combining (multiplex).




Komponen Utama Headend

        Antena parabola dan LNBC
        Divider / Splitter
        Satellite Receiver
        Modulator

        Combiner
        Cable Router
        Cable Telephony
        Optoelectronic
Perangkat Optoelectronic terdiri dari :
-             Forward  Path Transmitter
-            Return Path Receiver
-            Remote Monitoring
2)     Distribution Hub
-          Distribution Hub mempunyai fungsi mendistribusikan signal ke beberapa lokasi dengan media fiber optik.
-          Untuk jaringan HFC yang kecil cukup menggunakan satu atau dua distribution Hub.
-          Sedangkan untuk jaringan HFC yang cukup besar, Distribution Hub terbagi atas Main Hub (MH) dan Sub Hub (SH).
-          Di dalam DH signal yang datang dikuatkan dan dipecah (splitted) dengan level yang disyaratkan oleh ODN.
-          Di dalam DH terdapat Penerima optik, Electrical splitter, Driver Amplifier, dan Optical amplifier.


-          Variasi  jarak distribution Hub adalah sbb :
3)     Fiber Node
-          Merupakan interface antara saluran optik dengan coaxial.
-          Terdiri Optical Transceiver (Optical/electrical converter) dan coaxial amplifier.
-          Dipasang outdoor atau indoor.
-          Interface antara FN-DH menggunakan 1 atau 2 fiber tergantung dari jenis service yang diberikan dan mekanisme supervisi yang digunakan.
-          Koneksi antara fiber dengan DH Interface menggunakan optical connector FC-APC connector.

Komponen utama Node
1.   Optoelectronic
      -   Transmitter
      -   Receiver
      -   Penguat RF
2.   Power Inserter
4)     Jaringan Coaxial
5)     Jaringan Drop Pelanggan




Jumat, 22 Mei 2015

Iffat Naufal Alfatih - Anak Pertama Kami

Iffat Naufal Alfatih - Anak pertama kami, anugrah dan titipan Allah SWT kepada kami Alhamdulillah tepatnya 19 Mei 2014 lahir, sekarang tepat milad pertama. Senyuman kecil, keceriaan bahkan tangisan rewel pun menjadi "obat, kebahagiaan dan kerinduan" bagi kami ketika tidur dengan nyenyak dan bagun kembali ceria. Terus sehat dan tumbuh semakin sholeh yaa sayang jadilah seperti arti namamu kelak "Sang Pemuda Pemenang yang Terhormat dan Lembut Hati" ... Aamiin ...  big hug with beloved wife Hesti


Bermula dari pertemuan kedua insan yang mencoba saling mengenal di pertengahan bulan 9 November 2011. Sewaktu itu zii “panggilan sayang” masih bekerja di Rabbani Plered lokasinya dekat dengan perempatan Plered, Cirebon. Yaa sekedarnya saja kami bisa bertemu, meskipun bertemu singkat karena saya sudah bekerja di Jakarta, kira-kira kalo berkunjung ke Rabbani “ngeles” liat-liat model baju atau kerudung baru. Kami cuman ngobrol 10 menitan sebulan sekali. Hal tersebut berlangsung sampai bulan Juli 2012, selain bertemu langsung biasanya kami berkomunikasi “only” dengan sms-an kadang banyaknya inbox-inboxan FB. Unik memang, baru di Akhir bulan september 2012 komunikasi kami semakin intens dan kadang jika tidak saling sibuk telfonan. Semakin hari kerinduan semakin memuncak, sehingga niatan luhur dari pertama kali ketemu ingin segera di realisasikan, naik ke pelaminan. Awal tahun 2013 sering intens komunikasi dengan keluarga zii., tentunya juga bergerilya untuk membujuk ibunda dan bapake untuk segera melamar sang idola hati. Tak lupa sering juga curhat ke Angdin sebagai guru saya, dan beliau mengiyakan. Tepat bulan Mei 2013 kami diwakilkan Angdin “khitbah” si cantik mungil pujaan hati. Hari bersejarah pun segera dicari, dan diiputuskan setelah lebaran idul fitri 2013, tepatnya tanggal 18 Agustus 2013 sebagai Walimatul ‘Ursy kami.



Bergetar seolah di alam mimipi, saking senangnya sekaligus tegang bercampur aduk ketika saya harus mengucapkan Ijab Qobul yang dipandu Kyai sepuh Pesantren Al-Ittihad Pasalakan, KH. Maftuhin, dengan bahasa Arab, saya lantang mengucapkan “Qobiltu tazwijahaa..” disamping saya sudah bersanding bidadari cantik, menangis tersedu hari mendengar ikrar saya di Musholah dekat rumah, di Gempol. Hari bahagia semakin bertambah ketika teman, sahabat dan handai tolan sejawat semua tumpah ruah di acara kami, sampai pukul 10.00 Malam, kami masih menerima tamu, sungguh melelahkan tapi tetap bersemangat karena sudah bersanding dengan sang pujaan hati.




Hari-hari berlalu bahagia, selang sekitar seminggu kami langsung boyong ke Jakarta, diantar dua keluarga besar, kami pindah ke Perumnas Klender di rumah sudara jauh, yang sudah kami anggap orangtua sendiri, rumah H. Amry Herry Ibrahim. Sekitar akhir bulan September 2013 ada yang aneh dengan istri sering marah, mual dan lain sebagainya. Kami segera periksakan dengan test-pack dan ke bidan, Alhamdulillah huallahu akbar..kami mendapatkan sang calon bayi, iyaa.. positif hamil. Hari demi hari kami jaga jabang bayi tersbut, awalnya istri bekerja dekat rumah di depot air minnum BIRU karena iseng dan bete dirumah terus, namun ketika masa kehamilan mau menginjak 4 bulan, saya sarankan untuk pulang kampung. Maklum hamil pertama harus banyak training kepada keluarga. Otomatis saya harus pulang pergi Jkt-cirebon kadang sebulan sekali-dua kali. Capek diperjalanan terbalas ketika melihat zii dan perut lucu buncit dan kadang gerak-gerak. Lucu ternyata, melihat kondisi itu.


Alhamdulillah akhirnya tanggal 19 Mei 2014, lahirlah dengan selamat anak pertama kami, dirawat dengan baik, sampai umur 4 bulanan barulah kami boyong kembali ke Jakarta. Bulan Agustus tepatnya, sampai alhamdulillah saya mendapat tawaran kerjaan baru di Karawaci, kantor pusat PT. Link Net, Tbk - group Firstmedia. Dan kamipun pindah ke Perumnas Karawaci bulan November. Itulah perjalanan keluarga kecil kami, harapan masih banyak membumbung berupa doa yang tiap saat kami panjatkan. Semoga kaluarga besar kami, Mimi Juweriyah dan Mamake / Bapake  bisa lancar pergi ke Baitullah ditahun-tahun depan, kami bisa mempunyai rumah sendiri, Iffat selalu sehat, soleh dan bahagia selalu keluarga kecil “vanzi” selalu sabar dan bersyukur.
Aamiin....

Hotel Santika Premier, 22-5-2015 (on duty FTTH Update Training – K3 Socialization branch PT.Link Net,Tbk Surabaya)   

Jumat, 15 Mei 2015

Perkembangan Teknologi TV Kabel Terkini

Melanjutkan bahasan pertama tentang sejarah TV Kabel, pada sesi kali ini akan saya coba bahas tentang teknologi terkini CATV. Bagaimana cara kerjanya secara singkat, sehingga bisa dinikmati pelanggan dengan mudah dan banyak fitur layanan lainnya yang ditransmisikan dalam satu media (bisa berupa kabel atau parabola).

TV Cable berdasarkan media jaringannya bisa dibagi beberapa macam, namun yang popular digunakan adalah FTTH, ADSL, Satelit dan HFC
Berbasis :
        Kabel (Coaxial, Pair cable)
        Optik (HFC, FTTH, FTTC)
        Wireless (Satelit, LMDS, MMDS)

Note :
        HFC  = Hybrid Fiber Coax
        FTTH = Fiber To The Home
        FTTC = Fiber To The Curb
        LMDS = Local Multipoint Distribution System
MMDS = Multichannel Multipoint Distribution System

Adapun berdasarkan media akses tersebut bisa disimpulkan 
Tipe Akses
Potensial Bandwidth (MHz)

Jarak (KM)

Cooper
10
1-2
Coax
1,000
1 - 10
Fiber Optik
25,000,000
100

Perbadingan Teknologi
Item
ADSL
HFC
FTTH
Biaya perangkat Relatif tinggi Relatif murah
Tinggi
Biaya penggelaran Relatif Murah Tinggi Sangat tinggi
Time to Market Paling cepat Lama Lama
Kemudahan migrasi antisipasi kebutuhan BW Terbatas sampai 8 Mbps

Lebih fleksibel (100Mbps) dan bisa migrasi ke FTTH

Sangat fleksibel dengan BW yang besar
Kesesuaian dengan layanan saat ini sesuai sesuai Sangat sesuai
Kemudahan operasional Mudah sulit sulit

Perbandingan biaya investasi dan maintenance FTTH
Type biaya Penghematan biaya 20 tahun
Tenaga listrik >$200
Pemeliharaan metalik >$200
Pemeliharaan lainnya ~$100
Perlengkapan pelayanan ~$50


Tabel 1 Penghematan biaya operasi dari FTTH per pelanggan dibandingkan dengan FTTC atau HFC selama perioda 20 tahun (sumber : www.rr.cs.cmu.edu)

Secara umum ada beberapa macam teknologi diantaranya :

1.      FTTH (Fiber To The Home)
Salah satu provider yang menggunakan teknologi ini adalah Innovate brand dari Moratel, Indihome brand dari Telkom, dan diproyeksikan juga Firstmedia mengadopsi teknologi ini dalam ekspansi jaringan di kota / area baru.
Teknologi fiber merupakan media yang tidak diragukan untuk menyediakan bandwidth yang besar, tidak dipengaruhi interferensi gelombang elektromagnetik, bebas korosi dan menyediakan rugi-rugi minimal untuk transportasi data. Sekarang ini kebanyakan dari backbone jaringan telah dikonstruksikan dengan fiber optik tetapi hubungan terakhir ke rumah tangga kelihatannya tidak mungkin bagi fiber. Alasan utama untuk ini adalah usaha multimedia belum matang untuk menjamin bahwa kenyataan yang ada membutuhkan hubungan yang haus akan bandwidth. Alasan lain adalah bahwa instalasi fiber kelihatan sebagai usaha yang mahal yang tidak dapat digantikan.

Secara simple nya, sekali instalasi teknologi FTTH akan mengembangkan industri multimedia, untuk kemudian FTTH akan ada kemungkinan untuk menyampaikan layanan multimedia seperti HDTV, download musik dan video. Ini akan mempunyai dampak yang besar dalam dunia ekonomi dan akan menyaksikan bentuk baru yang muncul dari dunia bisnis dalam sektor teknologi. Juga operator jaringan akan menghasilkan keuntungan baru untuk meningkatkan transfer data, dan dapat menutupi biaya instalasi dari jaringan FTTH.


Pada tahun 1970 – an, perusahaan telepon dan TV kabel menyadari akan keuntungan dari menggantikan kabel metalik dengan fiber. Belum berkembangnya teknologi fiber optik disebabkan karenya biaya untuk membangun jaringan fiber optik yang sangat tinggi. Tetapi untuk beralih dengan fiber optik, perusahaan telepon dan TV kabel investasi dalam Fiber To The Curb (FTTC) dan Hybrid Fiber / Coax (HFC), yang sebagai strategi untuk menggunakan teknologi fiber optik pada saluran trunk, tetapi menggunakan teknologi konvensional dalam menghubungkan pemakai ke jaringan menggunakan kabel metalik. Dengan strategi ini perusahaan telepon dan TV kabel konstruksikan sebuah jaringan yang biaya dari fiber optik dibagikan diantar banyak pemakai. Pada saat ini betul – betul dipertimbangkan tidak menguntungkan untuk beralih ke Fiber To The Home (FTTH), semua jaringan fiber optik mampu untuk menyediakan keuntungan – keuntungan dari fiber kepada pemakai
Gambar Typical jaringan FTTH, drop pelanggan sepenuhnya menggukanan fiber optik
 Sumber : http://www.elektroindonesia.com/  

2.      HFC (Hybrid Fiber Coaxial)
Penggunaan teknologi HFC menjadi primadona di berbagai provider TV berbayar (PayTV) di dunia termasuk juga di Amerika, Thailand, tentunya juga di Indonesia yang diadopsi oleh Firstmedia kali ini ekspansi are coverage besar-besaran dihandle oleh anak perusahaannya yaitu PT Link Net, Tbk.

Secara umum HFC (Hybrid Fiber Coaxial) diartikan teknologi tersebut menggabungkan penggunaan Fiber optic dan cable coaxial sampai ke pelanggan tanpa menggunakan media parabola.  Head-End sebagai pusat pengolahan data dan video sangat dibutuhkan pada teknologi ini, di dalamnya banyak perangkat yang mempunyai fungsi khusus diantaranya Modulator, Satelit Receiver, Fiber Transmitter/receiver, CMTS, node dan masih banyak lagi. Untuk meluaskan cakupan area (coverage area) untuk pelanggan, maka dibutuhkan HUB yang dibangun di wilayah tertentu, Hub sama persis seperti Head-End, namun minus Satelit receiver. Kemudian dari Hub tersebut akan didistribusikan ke permukiman warga, dibutuhkan perangkat Node (biasanya diletakan ditempat yang strategis) yang berfungsi sebagai terminator antara fiber optik dan cable coaxial. Keluaran atau output dari node menggunakan cable coaxial dan dihubungkan melalui alat yang disebut Amplifier. Untuk supplay power kedua alat tersebut digunakan power supply, dikarenakan perangkat tersebut kita kenal sebagai perangkat aktif yang membutuhkan power. Melanjutkan dari Amplifier tersebut disebarkan ke alat yang disebut TAP yang berfungsi untuk mendistribusikan signal ke rumah pelanggan, pada praktiknya pemasangan TAP akan mengikuti konfigurasi Tiang PLN / tarikan kabel PLN. Dari Tap tersebut kemudian diterminasikan ke rumah pelanggan melalui alat yang disebut Splitter yang membagi signal ke STB (Set Top Box) untuk keperluan TV Cable dan satu lagi dikoneksikan ke Cable Modem untuk keperluan Internet. signal Upstrem ada di kisaran frekuensi 5-65 Mhz dan frekuensi Downstream ada di kisaran 88-860 Mhz.


Secara umum teknologinya bisa digambarkan sebagai berikut.   
    
3.      ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line)

     ADSL singkatan dari Asymmetrical Digital Subscriber Line. ADSL ini memberikan kecepatan downstream (dari Internet ke pelanggan) lebih besar dari pada kecepatan upstream (dari pelanggan ke Internet) sehingga disebut asymetric. Sehingga modem ini tidak cocok digunakan dikalangan industri atau bisnis yang membutuhkan kecepatan upload dan download yang besar (Perusahaan Web Server). Modem ADSL hanya digunakan untuk kalangan pelanggan rumahan atau warnet.


ADSL adalah salah satu jenis dari DSL. ADSL memakai sinyal frekuensiantara 20 KHz sampai 1 MHz. Sementara untuk penggunaan ADSL di Indonesia dengan program Telkom Speedy. ADSL menggunakan local loop untuk menghubungkan antara perusahaan telphone dengan pelanggannya. Local loop adalah saluran fisik (kabel telphone) yang digunakan untuk menghubungkan pelanggan dengan penyedia jasa komunikasi dalam hal ini Telkom. Ada  dua sisi dari peralatan ADSL, satu di sisi pelanggan (disebut CPE, CustomerPremised Equipment) dan satu lagi di sisi TELKOM. Di sisi pelanggan harus ada penerima DSL (modem ADSL) dan splitter. Di sisi TELKOM terdapat ADSL multiplexer disebut DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer) untuk menerima sambungan dari pelanggan. Teknologi ADSL adalah teknologi yang adaptif. Bandwidth kabel telphone sebesar 1,104 MHz hanya secara teori saja karena tidak bisa maksimal digunakan sebesar itu. Teknologi tersebut sudah banyak ditinggalkan dikarenakan banyak kekurangan dan rentan terhadap gangguan, disamping kalah bersaing dengan provider lain dengan teknologi yang lebih mutahir

Gambar  Konfigurasi ADSL

4.      Satellite
    Media lain yang juga sangat menarik dalam industri televisi berlangganan kita adalah satelit. Satelit adalah perangkat yang digunakan untuk menangkap saluran dan dikirim berupa sinyal ke kabel yang terpasang pada dekoder.


Gambar Teknologi umum TV Satelit
Indovision
Indovision yang telah mengklaim sebagai penyedia layanan televisi berlangganan pertama di Indonesia dengan sistem DBS memulai operasi dengan menggunakan frekuensi C-Band melalui satelit Palapa C-2 pada awal tahun 1994, sampai akhirnya menggunakan perangkat S-Band melalui satelit INDOSTAR-1 atau lebih dikenal dengan nama CAKRAWARTA-1 pada akhir tahun 1997. Beberapa belas tahun yang lalu, S-Band banyak digunakan untuk keperluan militer, namun, saat ini telah banyak digunakan untuk kepentingan komersial. Dengan beroperasi pada frekuensi 2.5 GHz, S-Band cocok diaplikasikan untuk wilayah Indonesia yang tropis.

Pada Mei 2009, Indovision meluncurkan Satelit INDOSTAR-2 guna menggantikan posisi Satelit INDOSTAR-1. Masih dengan menggunakan frekuensi S-Band, INDOSTAR-2 dioperasikan untuk mendukung transmisi teknologi penyiaran paling terbaru sehingga dimungkinkan untuk mendapat kapasitas 2 kali lipat dibandingkan satelit berikutnya.

TransVision (sebelumnya bernama TelkomVision)
PT. Trans Corp (yang sebelumnya dikelola oleh PT. Telkom) menawarkan dua pilhan sekaligus, TV berbayar melalui media satelit (Direct To Home) serta TV Kabel(Digital CATV Broadband) dengan nama TransVision. Untuk layanan satelit di kota-kota besar, Trans Corp yang bekerja sama dengan Telkom turut menyediakan akses Internet yang diberi nama Telkom Speedy dan TV berlangganan melalui sistem protokol internet yaitu Groovia TV. TransVision ini menggunakan frekuensi transmisi satelit C-Band yang beroperasi pada level 4-6 GHz. Penggunaan frekuensi satelit C-Band ternyata memiliki kemampuan terbatas dalam menghindari interferensi sistem gelombang mikro dan terestrial.

Proses penyiaran
Mekanisme penyiaran satelit untuk televisi berlangganan umumnya sama, dimulai ketika provider memancarkan siarannya ke satelit (uplink) lalu kemudian sinyal tersebut ditransfer dan dikirim lagi menuju ke bumi (downlink). Di Indonesia kita bisa mengakses siaran-siaran TV dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dll. Siaran tersebut pertama kali dipancarkan dari tempat produksi siaran dilakukan, kemudian dipancarkan kembali melalui satelit di Indonesia sampai akhirya kita bisa menikmati ratusan tayangan dari berbagai negara di dunia. Siaran dari satelit penyedia tersebut dapat diterima pelanggan yang telah dilengkapi alat bernamadecoder. Dengan menggunakan media penyaluran satelit, suatu program televisi dapat dinikmati sejauh kita memiliki akses untuk menangkap sinyal uplink satelit induk. Selain itu, yang menarik dari sistem berlangganan program TV dengan menggunakan satelit adalah adanya pengacakan sinyal (scramble). Artinya, sinyal yang dikirim oleh satelit diacak terlebih dulu, sehingga hanya orang yang memiliki decoder saja yang dapat mengakses program siaran tersebut.

Alat penangkap sinyal satelit
Alat utama untuk bagian ini adalah: Antena parabola
Untuk mengakses beberapa bahkan sampai ratusan saluran televisi, kita harus memiliki alat-alat penangkap sinyal satelit. Beberapa Peralatan tersebut antara lain :
  • Satellite dish (Out Door Unit): komponen ini berbentuk seperti antena parabola dengan diameter sekitar 60-180 cm.
  • Decoder: Alat yang berfungsi mengakses layanan seperti penggantian saluran.
  • Smart card: Alat untuk mengakses sistem.


Noted from Wikipedia.com dan Modul 9 - CATV and HFC - Teknik Elektro STT Telkom