Adab Menuliskan Nama Nabi SAW - Al-Muhibbin Indonesia

Al-Muhibbin Indonesia

Berbagi ilmu melalui catatan kuliah, catatan kerja dan Kajian Islam Ahlussunah Waljamaah.

Breaking

Minggu, 29 Agustus 2010

Adab Menuliskan Nama Nabi SAW



Adab Menuliskan Nama Nabi SAW (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)


Asslamualaikum Wr. Wb.

Habib Luthfi yang saya muliakan, saya sering membaca tulisan, baik di koran, di majalah, maupun di buku, tentang Nabi Muhammad Saw, yang namanya ditulis tidak lengkap, kadang malah disebut Muhammad saja. Begitu juga dengan penyebutan sahabat nabi Saw, seperti Sayyidina Abu Bakar Ra, Sayyidina Umar Ra, Sayyidina Ustman Ra, dan Sayyidina Ali Ra. Mereka hanya menuliskan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Saya merasa tulisan itu kurang menghormati dan termasuk su’ul adan (adab yang  buruk).

Waalaikumsalam Wr.Wb.

Abdul Haq
Bogor


Waalaikumsalam Wr.Wb

Memang begitulah seharusnya menuliskan nama Rasul atau Nabi dengan gelarnya. Begitu juga dengan para sahabat nabi Muhammad Saw, yang telah mendapatkan ridha Allah Swt, sehingga mendapatkan sebutan “Radiyyallahu  ‘anhum/anhuma”.

Khusus untuk Nabi Muhammad Saw, perintah untuk membacakan shalawat apabila namanya disebutkan, bukan sekedar perintah manusia, tetapi perintah dari Allah SAwt. Dalam Al Quran disebutkan, “ sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikt-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. “ (QS: Al Ahzab: 56).

Jika Allah Swt dan malaikat saja bershalawat kepada Nabi Saw, junjungan kita, kitapun harus demikian.

Dalam menulis nama Allah dalam suatu tulisan, pertama kita tulis dengan lengkap, yaitu Allah subhanahu wataala (SWT) atau Allah taala saja. Selanjutnya boleh kita tulis Allah saja, tetapi dengan niat dan harapan agar para pembacanya menambahkan sendiri bacaan Subhanahu wa Taala (SWT) atau Taala dalam hati.

Begitu juga untuk menulis nama Nabi Muhammad Saw, kita tulis dengan lengkap, dengan tambahan shalallahu alaihi wasalam (SAW), atau didepannya bisa ditambahkan sayyidina atau baginda, atau sebutan penghormatan lain. Nah, baru dipenulisan berikutnya, bisa ditulis Nabi Saw, Rasulullah Saw, atau Nabi atau Rasulullah saja. Tidak sopan  untuk menyebut nama Nabi, junjungan kita hanya dengan Muhammad saja, meski pada awal tulisan sudah kita sebut namanya secara lengkap dengan gelarnya.

Bagi pembaca, bila dituliskan nama Allah, sebaiknya mengucapkan Subhanahu wa Taala, atau Taala. Dan jika dituliskan nama Nabi atau Rasulullah saja, ada baiknya mengucapakan shalallahu alaihi wasalam di dalam hati.

Untuk para sahabat, berlaku begitu juga. Untuk awal tulisan, kita tulis Sayyidina Abu bakar Radiallahu anhu (RA). Untuk penulisan selanjutnya, cukup ditulis Sayyidina Abu Bakar atau Abu bakar saja.

Mengapa para sahabat mendapat gelar Radiallahu ‘anhu, sebab Allah sendiri telah mengucapkan keridhaanNya kepada mereka, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha pada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir, sunga–sungai didalamnya selamanya. Mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS: At-TAubah (9): 100).  

(Al Kisah no 11/tahun VII/1-14 Juni 2009)

Sumber Habib Lutfi bin Yahya