Minggu, 29 Agustus 2010

Hukum / Dalil Shalawatan dengan Rebana / Terbangan / Hadrah

Hukum / Dalil Shalawatan dengan Rebana / Terbangan / Hadrah

mengenai shalawat yg dibarengi rebana merupakan sunnah Rasul saw, hanya ustad ustad yg tak mengerti hukum syariah yg melarangnya, mereka tertipu dg kebodohannya sendiri.

sebagaimana Ijma’ seluruh Ulama Ahlussunnah waljamaah pengertian sunnah adalah apa apa yg dikerjakan oleh Rasul saw, dan apa apa yg diperintahkan oleh Rasul saw, dan apa apa yg dilihat oleh Rasul saw dan beliau saw tak melarangnya.


maka fahamlah kita bahwa bila Rasul saw melihatnya dan tak melarangnya maka itu adalah sunnah, dan Rasul saw disambut oleh Muhajirin dan Anshor dg rebana dan qasidah thala’al badru alaina ketika beliau tiba dalam hijrahnya dari Makkah menuju Madinah,, dan Rasul saw tak melarangnya. (teriwayatkan dalam hampir seluruh kitab sirah Nabi saw)

maka tiada pula sahabat melarang rebana, tidak pula tabi’in, tak pula Muhadditsin, lalu siapa yg melarangnya?, mungkin mereka lebih mulia dari Rasul saw hingga melarang apa apa yg tak dilarang oleh Rasul saw.

mereka mengatakan bahwa Rasul saw membiarkannya karena saat itu keimanan kaum anshar masih baru, butuh penyesuaian untuk melarangnya, hujjah ini munkar, karena bila hal itu benar maka pasti ada pelarangan dari Rasul saw ditahun trahun berikutnya, dan itu tak pernah terjadi.

anda tanyakan saja pd ustadz anda, munculkan satu saja, hadits yg melarang rebana yg dilakukan oleh Anshar, mereka melarang tanpa punya dalil, jangankan shahih, hadits dhaif pun tak ada, bahkan ucapan sahabat pun tak ada, tidak pula para Imnam Imam Muhadditsin.

darimana pula orang orang itu mengenal shalawat dengan rebana kalau bukan dari Anshar yg memulainya dan Rasul saw tak melarangnya.

Semoga Allah memberi hidayah pd nya agar ia kembali dan sembuh dari wabah penyakit hati yg sedang gencar menjangkiti permukaan bumi ini, wabah yg bukan membawa penyakit di bumi, tapi membawa kesengsaraan di alam kubur dan akhirat,

mengenai alat musik lainnya, ada pelarangan dengan Nash hadits yg jelas, seperti alat musik petik, Mizmar (seruling yg mencembung ditengahnya),dan beberapa alat musik lainnya yg memang ada Nash yg jelas, namun bukan rebana.

Sumber Habib Munzir Al Musawwa
Irfan Irawan
Irfan Irawan

I have graduated from NIIT-Telkom Center then continuing with Degree of Telkom Polytechnic Bandung, while working i've graduated from ISTN Jakarta. I Like of writing, researching something new and also documenting knowledge i've learned during work on multinational company. Absolutely, all of this must be shared to another ~the life means to reach the high end~ This is the meaning of my Moslem name "Irfan"

2 komentar:

  1. Sebelumnya minta maaf,apabila pemahaman saya ini kurang benar, saya mau tanyak shoal deba', didalam deba' ada syair yg maksudnya'' ENGKAU CAHAYA DIATAS CAHAYA'' ini ditujukan pada rosulullah, dan setau saya ''CAHAYA DIATAS CAHAYA'' adalah hanya ALLAH tidak ada yg lain. apakah kita tidak menyamakan nabi Muhammad dg ALLAH?.

    BalasHapus
  2. cahaya diatas cahaya dari kajian deba' yang dulu saya ikutin adalah menunjukan nabi Muhammad saw sebagai ciptaan/hamba Allah yang paling bercahaya dibandingkan ciptaan/mahluk lainnya bahkan cahaya nabi "nur annabi - sudah ada di asryi nya Allah sebelum nabi Adam diciptakan".. itu merupakan perumpamaan kesempurnaan ciptaan Allah dalam diri Nabi Muhammad saw.. bukan menyamakan dengan Allah.. karena kita tau sifat Allah adalah laisa kamitslihi syaiun .. dan sifat 20 lain nya jika bicara akidah ahlussunah waljamaah,, :)

    BalasHapus