Perkembangan Teknologi TV Kabel Terkini - Al-Muhibbin Indonesia

Al-Muhibbin Indonesia

Berbagi ilmu melalui catatan kuliah, catatan kerja dan Kajian Islam Ahlussunah Waljamaah.

Breaking

Jumat, 15 Mei 2015

Perkembangan Teknologi TV Kabel Terkini

Melanjutkan bahasan pertama tentang sejarah TV Kabel, pada sesi kali ini akan saya coba bahas tentang teknologi terkini CATV. Bagaimana cara kerjanya secara singkat, sehingga bisa dinikmati pelanggan dengan mudah dan banyak fitur layanan lainnya yang ditransmisikan dalam satu media (bisa berupa kabel atau parabola).

TV Cable berdasarkan media jaringannya bisa dibagi beberapa macam, namun yang popular digunakan adalah FTTH, ADSL, Satelit dan HFC
Berbasis :
        Kabel (Coaxial, Pair cable)
        Optik (HFC, FTTH, FTTC)
        Wireless (Satelit, LMDS, MMDS)

Note :
        HFC  = Hybrid Fiber Coax
        FTTH = Fiber To The Home
        FTTC = Fiber To The Curb
        LMDS = Local Multipoint Distribution System
MMDS = Multichannel Multipoint Distribution System

Adapun berdasarkan media akses tersebut bisa disimpulkan 
Tipe Akses
Potensial Bandwidth (MHz)

Jarak (KM)

Cooper
10
1-2
Coax
1,000
1 - 10
Fiber Optik
25,000,000
100

Perbadingan Teknologi
Item
ADSL
HFC
FTTH
Biaya perangkat Relatif tinggi Relatif murah
Tinggi
Biaya penggelaran Relatif Murah Tinggi Sangat tinggi
Time to Market Paling cepat Lama Lama
Kemudahan migrasi antisipasi kebutuhan BW Terbatas sampai 8 Mbps

Lebih fleksibel (100Mbps) dan bisa migrasi ke FTTH

Sangat fleksibel dengan BW yang besar
Kesesuaian dengan layanan saat ini sesuai sesuai Sangat sesuai
Kemudahan operasional Mudah sulit sulit

Perbandingan biaya investasi dan maintenance FTTH
Type biaya Penghematan biaya 20 tahun
Tenaga listrik >$200
Pemeliharaan metalik >$200
Pemeliharaan lainnya ~$100
Perlengkapan pelayanan ~$50


Tabel 1 Penghematan biaya operasi dari FTTH per pelanggan dibandingkan dengan FTTC atau HFC selama perioda 20 tahun (sumber : www.rr.cs.cmu.edu)

Secara umum ada beberapa macam teknologi diantaranya :

1.      FTTH (Fiber To The Home)
Salah satu provider yang menggunakan teknologi ini adalah Innovate brand dari Moratel, Indihome brand dari Telkom, dan diproyeksikan juga Firstmedia mengadopsi teknologi ini dalam ekspansi jaringan di kota / area baru.
Teknologi fiber merupakan media yang tidak diragukan untuk menyediakan bandwidth yang besar, tidak dipengaruhi interferensi gelombang elektromagnetik, bebas korosi dan menyediakan rugi-rugi minimal untuk transportasi data. Sekarang ini kebanyakan dari backbone jaringan telah dikonstruksikan dengan fiber optik tetapi hubungan terakhir ke rumah tangga kelihatannya tidak mungkin bagi fiber. Alasan utama untuk ini adalah usaha multimedia belum matang untuk menjamin bahwa kenyataan yang ada membutuhkan hubungan yang haus akan bandwidth. Alasan lain adalah bahwa instalasi fiber kelihatan sebagai usaha yang mahal yang tidak dapat digantikan.

Secara simple nya, sekali instalasi teknologi FTTH akan mengembangkan industri multimedia, untuk kemudian FTTH akan ada kemungkinan untuk menyampaikan layanan multimedia seperti HDTV, download musik dan video. Ini akan mempunyai dampak yang besar dalam dunia ekonomi dan akan menyaksikan bentuk baru yang muncul dari dunia bisnis dalam sektor teknologi. Juga operator jaringan akan menghasilkan keuntungan baru untuk meningkatkan transfer data, dan dapat menutupi biaya instalasi dari jaringan FTTH.


Pada tahun 1970 – an, perusahaan telepon dan TV kabel menyadari akan keuntungan dari menggantikan kabel metalik dengan fiber. Belum berkembangnya teknologi fiber optik disebabkan karenya biaya untuk membangun jaringan fiber optik yang sangat tinggi. Tetapi untuk beralih dengan fiber optik, perusahaan telepon dan TV kabel investasi dalam Fiber To The Curb (FTTC) dan Hybrid Fiber / Coax (HFC), yang sebagai strategi untuk menggunakan teknologi fiber optik pada saluran trunk, tetapi menggunakan teknologi konvensional dalam menghubungkan pemakai ke jaringan menggunakan kabel metalik. Dengan strategi ini perusahaan telepon dan TV kabel konstruksikan sebuah jaringan yang biaya dari fiber optik dibagikan diantar banyak pemakai. Pada saat ini betul – betul dipertimbangkan tidak menguntungkan untuk beralih ke Fiber To The Home (FTTH), semua jaringan fiber optik mampu untuk menyediakan keuntungan – keuntungan dari fiber kepada pemakai
Gambar Typical jaringan FTTH, drop pelanggan sepenuhnya menggukanan fiber optik
 Sumber : http://www.elektroindonesia.com/  

2.      HFC (Hybrid Fiber Coaxial)
Penggunaan teknologi HFC menjadi primadona di berbagai provider TV berbayar (PayTV) di dunia termasuk juga di Amerika, Thailand, tentunya juga di Indonesia yang diadopsi oleh Firstmedia kali ini ekspansi are coverage besar-besaran dihandle oleh anak perusahaannya yaitu PT Link Net, Tbk.

Secara umum HFC (Hybrid Fiber Coaxial) diartikan teknologi tersebut menggabungkan penggunaan Fiber optic dan cable coaxial sampai ke pelanggan tanpa menggunakan media parabola.  Head-End sebagai pusat pengolahan data dan video sangat dibutuhkan pada teknologi ini, di dalamnya banyak perangkat yang mempunyai fungsi khusus diantaranya Modulator, Satelit Receiver, Fiber Transmitter/receiver, CMTS, node dan masih banyak lagi. Untuk meluaskan cakupan area (coverage area) untuk pelanggan, maka dibutuhkan HUB yang dibangun di wilayah tertentu, Hub sama persis seperti Head-End, namun minus Satelit receiver. Kemudian dari Hub tersebut akan didistribusikan ke permukiman warga, dibutuhkan perangkat Node (biasanya diletakan ditempat yang strategis) yang berfungsi sebagai terminator antara fiber optik dan cable coaxial. Keluaran atau output dari node menggunakan cable coaxial dan dihubungkan melalui alat yang disebut Amplifier. Untuk supplay power kedua alat tersebut digunakan power supply, dikarenakan perangkat tersebut kita kenal sebagai perangkat aktif yang membutuhkan power. Melanjutkan dari Amplifier tersebut disebarkan ke alat yang disebut TAP yang berfungsi untuk mendistribusikan signal ke rumah pelanggan, pada praktiknya pemasangan TAP akan mengikuti konfigurasi Tiang PLN / tarikan kabel PLN. Dari Tap tersebut kemudian diterminasikan ke rumah pelanggan melalui alat yang disebut Splitter yang membagi signal ke STB (Set Top Box) untuk keperluan TV Cable dan satu lagi dikoneksikan ke Cable Modem untuk keperluan Internet. signal Upstrem ada di kisaran frekuensi 5-65 Mhz dan frekuensi Downstream ada di kisaran 88-860 Mhz.


Secara umum teknologinya bisa digambarkan sebagai berikut.   
    
3.      ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line)

     ADSL singkatan dari Asymmetrical Digital Subscriber Line. ADSL ini memberikan kecepatan downstream (dari Internet ke pelanggan) lebih besar dari pada kecepatan upstream (dari pelanggan ke Internet) sehingga disebut asymetric. Sehingga modem ini tidak cocok digunakan dikalangan industri atau bisnis yang membutuhkan kecepatan upload dan download yang besar (Perusahaan Web Server). Modem ADSL hanya digunakan untuk kalangan pelanggan rumahan atau warnet.


ADSL adalah salah satu jenis dari DSL. ADSL memakai sinyal frekuensiantara 20 KHz sampai 1 MHz. Sementara untuk penggunaan ADSL di Indonesia dengan program Telkom Speedy. ADSL menggunakan local loop untuk menghubungkan antara perusahaan telphone dengan pelanggannya. Local loop adalah saluran fisik (kabel telphone) yang digunakan untuk menghubungkan pelanggan dengan penyedia jasa komunikasi dalam hal ini Telkom. Ada  dua sisi dari peralatan ADSL, satu di sisi pelanggan (disebut CPE, CustomerPremised Equipment) dan satu lagi di sisi TELKOM. Di sisi pelanggan harus ada penerima DSL (modem ADSL) dan splitter. Di sisi TELKOM terdapat ADSL multiplexer disebut DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer) untuk menerima sambungan dari pelanggan. Teknologi ADSL adalah teknologi yang adaptif. Bandwidth kabel telphone sebesar 1,104 MHz hanya secara teori saja karena tidak bisa maksimal digunakan sebesar itu. Teknologi tersebut sudah banyak ditinggalkan dikarenakan banyak kekurangan dan rentan terhadap gangguan, disamping kalah bersaing dengan provider lain dengan teknologi yang lebih mutahir

Gambar  Konfigurasi ADSL

4.      Satellite
    Media lain yang juga sangat menarik dalam industri televisi berlangganan kita adalah satelit. Satelit adalah perangkat yang digunakan untuk menangkap saluran dan dikirim berupa sinyal ke kabel yang terpasang pada dekoder.


Gambar Teknologi umum TV Satelit
Indovision
Indovision yang telah mengklaim sebagai penyedia layanan televisi berlangganan pertama di Indonesia dengan sistem DBS memulai operasi dengan menggunakan frekuensi C-Band melalui satelit Palapa C-2 pada awal tahun 1994, sampai akhirnya menggunakan perangkat S-Band melalui satelit INDOSTAR-1 atau lebih dikenal dengan nama CAKRAWARTA-1 pada akhir tahun 1997. Beberapa belas tahun yang lalu, S-Band banyak digunakan untuk keperluan militer, namun, saat ini telah banyak digunakan untuk kepentingan komersial. Dengan beroperasi pada frekuensi 2.5 GHz, S-Band cocok diaplikasikan untuk wilayah Indonesia yang tropis.

Pada Mei 2009, Indovision meluncurkan Satelit INDOSTAR-2 guna menggantikan posisi Satelit INDOSTAR-1. Masih dengan menggunakan frekuensi S-Band, INDOSTAR-2 dioperasikan untuk mendukung transmisi teknologi penyiaran paling terbaru sehingga dimungkinkan untuk mendapat kapasitas 2 kali lipat dibandingkan satelit berikutnya.

TransVision (sebelumnya bernama TelkomVision)
PT. Trans Corp (yang sebelumnya dikelola oleh PT. Telkom) menawarkan dua pilhan sekaligus, TV berbayar melalui media satelit (Direct To Home) serta TV Kabel(Digital CATV Broadband) dengan nama TransVision. Untuk layanan satelit di kota-kota besar, Trans Corp yang bekerja sama dengan Telkom turut menyediakan akses Internet yang diberi nama Telkom Speedy dan TV berlangganan melalui sistem protokol internet yaitu Groovia TV. TransVision ini menggunakan frekuensi transmisi satelit C-Band yang beroperasi pada level 4-6 GHz. Penggunaan frekuensi satelit C-Band ternyata memiliki kemampuan terbatas dalam menghindari interferensi sistem gelombang mikro dan terestrial.

Proses penyiaran
Mekanisme penyiaran satelit untuk televisi berlangganan umumnya sama, dimulai ketika provider memancarkan siarannya ke satelit (uplink) lalu kemudian sinyal tersebut ditransfer dan dikirim lagi menuju ke bumi (downlink). Di Indonesia kita bisa mengakses siaran-siaran TV dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dll. Siaran tersebut pertama kali dipancarkan dari tempat produksi siaran dilakukan, kemudian dipancarkan kembali melalui satelit di Indonesia sampai akhirya kita bisa menikmati ratusan tayangan dari berbagai negara di dunia. Siaran dari satelit penyedia tersebut dapat diterima pelanggan yang telah dilengkapi alat bernamadecoder. Dengan menggunakan media penyaluran satelit, suatu program televisi dapat dinikmati sejauh kita memiliki akses untuk menangkap sinyal uplink satelit induk. Selain itu, yang menarik dari sistem berlangganan program TV dengan menggunakan satelit adalah adanya pengacakan sinyal (scramble). Artinya, sinyal yang dikirim oleh satelit diacak terlebih dulu, sehingga hanya orang yang memiliki decoder saja yang dapat mengakses program siaran tersebut.

Alat penangkap sinyal satelit
Alat utama untuk bagian ini adalah: Antena parabola
Untuk mengakses beberapa bahkan sampai ratusan saluran televisi, kita harus memiliki alat-alat penangkap sinyal satelit. Beberapa Peralatan tersebut antara lain :
  • Satellite dish (Out Door Unit): komponen ini berbentuk seperti antena parabola dengan diameter sekitar 60-180 cm.
  • Decoder: Alat yang berfungsi mengakses layanan seperti penggantian saluran.
  • Smart card: Alat untuk mengakses sistem.


Noted from Wikipedia.com dan Modul 9 - CATV and HFC - Teknik Elektro STT Telkom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar