Rabu, 10 Februari 2016

Sholawat Betawiyyin - Suara Penyejuk Qolbu



Assalamu'alaikum,

Sholawat dengan judul Sholawat Betawiyyin ini diunduh dari situs rasfm (Radio Alaykas Salam FM) Jakarta. Kenapa namanya Sholawat Betawiyyin, karena memang sholawat ini menjadi salah satu sholawat yang dipopulerkan oleh radio Asy Syafiiyah berpuluh tahun lalu.

Pengarang Sholawat
Shalawat ini dinisbahkan kepada salah satu wali besar yang merupakan ulama beken di zamannya Sayyidina al-Imam al-Habib Ahmad Bin Umar al-Hinduan Radhiyallahu Anhu. Shalawat ini beliau catatkan dalam sebuah kitab yang beliau namakan al-Kawakib al-Mudhi’ah Fi Dzikr al-Shalah Ala Khair al-Bariyyah.  Sholawat ini diberi nama Sholawat Asyghilidz-Dzolim dan populer di Indonesia sebagai Sholawat Betawiyyin

Shalawat ini sering dibaca oleh para ulama nusantara dalam berbagai acara istighatsah dan juga dibaca oleh masyarakat luas diberbagai masjid, mushalla dan majelis-majelis taklim di jakarta dan sekitarnya. Shalawat ini pertama kalinya dipopulerkan di jakarta melalui pemancar radio assyafiiyah bali matraman dengan nagham (nada) yang sangat menyentuh indah didengar dan terasa sejuk di hati pembaca dan pendengarnya.

Abuya K.H Saifuddin Amsir pendiri Pondok Pesantren al-Asyirah al-Qur’aniyah Jakarta memasukan shalawat ini menjadi salah satu menu utama dari dzikir-dzikir istighatsah Jakarta.




Isi Sholawat :
Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad
Wa asyghilii dzoolimiin bidz dzoolimiin
Wa akhrijnaa min bayni him saalimiin
Wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin


Artinya :
"Ya Allah limpahkanlah sholawat atas pemimpin kami Nabi Muhammad.
Sibukkanlah orang-orang dzolim dengan kedzoliman yang mereka perbuat.
Keluarkanlah kami dari lingkungan mereka dalam keadaan selamat.
Serta limpahkan pula sholawatMU atas keluarga Nabi Muhammad dan seluruh sahabat"

Sejarah Pembacaan Sholawat ini
Ustadz K.H. Moehammad Zain dari Bekasi, yang sejak tahun 2004, dalam berbagai pertemuan sering mengajak para hadirin untuk melantunkan sebuah salawat, yang sering saya dengar dikumandangkan di masjid-masjid Betawi – Jabodetabek tetapi jarang saya dengar di daerah lain.

Saya juga pernah bertanya kepada Prof. K.H. Ali Yafie, apa yang beliau ketahui tentang salawat tersebut. Menurut beliau, salawat itulah yang digelorakan oleh ulama-ulama tasawuf dunia Arab khususnya Iraq tatkala Iraq diluluhlantakan oleh pasukan Mongol Hulagu Khan.

Sejarah mencatat, pada tahun 1258M, lebih dari 200 ribu tentara Mongol menyerbu Iraq serta menumbangkan kekuasaan Bani Abbasiyyah, bahkan khalifahnya yaitu Al-Mus’tasim dipenggal kepalanya.

Mengerikan sekali. Bukan hanya istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri, semua buku-buku perpustakaan terbesar di dunia, dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Tigris, sampai-sampai air sungai berwarna hitam oleh tintanya.

Praktis pada masa itu Asia Tengah dikuasai Mongol dan tentara Islam hancur. Di saat seperti itulah bangkit para pahlawan tasawuf. Mereka mengorganisir kelompok-kelompok gerilyawan dan bersama Pasukan Mameluk dari Mesir, berhasil membendung ekspansi Pasukan Mongol, bahkan untuk pertama kalinya mengalahkan mereka dalam pertempuran dahsyat yang dikenal sebagai Pertempuran Ain Jalut di Palestina pada 3 September 1260.

Sungguh Allah Maha Adil, Hulagu Khan yang menghancurkan kekhalifahan Islam dan kemudian mendirikan Dinasti Ilkhan, sang cucu Ahmad Teguder, yang menjadi raja ke-3 dinasti tersebut, justru memeluk Islam, sayang sekali ia hanya berkuasa selama dua tahun (1282-1284) karena dibunuh oleh saudaranya.

Alhamdulillah, Raja ke-7 yaitu Ghazan (1295-1304), memeluk Islam menjadi Mahmud Ghazan. Mulai periode kekuasaannyalah, posisi umat Islam kembali memperoleh keleluasaan, dan peradaban Islam dibangun kembali meski harus mulai dari nol lagi.

Dalam masa-masa kritis seperti itu, tatkala kekuatan militer secara formal tidak berfungsi, para pahlawan sufi tidak berpangku tangan, tapi terjun langsung ke masyarakat mengorganisir serta menggelorakan semangat juang sambil mengumandangkan shalawat ini.

Noted Tambahan,
Penulis masih mencari versi suara asli yang membawakan sholawat ini, kemungkinan masih dalam bentuk kaset yang sering terdengar di beberapa masjid di Jakarta dan Tangerang.

Sumber

Sumber

Wallahu'alam,
Irfan Irawan
Irfan Irawan

I have graduated from NIIT-Telkom Center then continuing with Degree of Telkom Polytechnic Bandung, while working i've graduated from ISTN Jakarta. I Like of writing, researching something new and also documenting knowledge i've learned during work on multinational company. Absolutely, all of this must be shared to another ~the life means to reach the high end~ This is the meaning of my Moslem name "Irfan"

3 komentar:

  1. Subhanallah, Allahumma Solli'Ala Sayyidina Muhammad

    BalasHapus
  2. Subhanallah Ya Allah, sejuk banget hati ini dengar sholawat ini, ijin mengamalkan untuk pujian di masjid

    BalasHapus