Annasaihud Diniyah Bab Perkara Munjiyat - Yang Menyelamatkan - Al-Muhibbin Indonesia

Al-Muhibbin Indonesia

Berbagi ilmu melalui catatan kuliah, catatan kerja dan Kajian Islam Ahlussunah Waljamaah.

Breaking

Selasa, 27 Juni 2017

Annasaihud Diniyah Bab Perkara Munjiyat - Yang Menyelamatkan

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Alhamdulillah berkesempatan lagi menulis, kali saya akan menuliskan beberapa pemaparan dari Kitab Annasaihud Diniyah bab Perkara Munjiyat "yang menyelamatkan".


Perkara munjiyat ini sangat banyak, dan akan coba saya sampaikan dengan kata-kata yang ringkas. Pertama adalah perkara Taubat dari semua perkara yang mengandung dosa. Taubat ini bukan hanya untuk seseorang yang masih hidup, bahkan jika kita sebagai sorang anak yang ingin berbakti ketika orang tua sudah wafat, bisa juga kita memintakan "taubat" dengan senantiasa : berdoa memintakan ampun, perbanyak infak atas nama almarhum, dan bersilaturahim kepada kawan/keluarga ataupun saudara si almarhum, membadalkan haji/umroh untuk almarhum, dan melaksanakan sholat taubat disaat doa panjatkanlah kebaikan bagi si almarhum/almarhumah.

Perkara solat taubat ini dari golongan ahli toriqoh melakukan setiap hendak tidur, dengan membaca surah setelah fatihah di rokaat pertama surah az-zukhruf dan di rokaat kedua surah as-sajadah. ini berdasarkan juga ijtihad imam Abu Zakariya yang senantiasa solat dua rokaat sebelum tidur, dan diamalkan oleh ahli sufi/toriqoh dengan amalan solat taubat. Sedangkan bagi kalangan ahli fikih cukup sekali seumur hidup minimal, dan di sarankan juga ketika seseorang baru memeluk agama islam (mualaf) dengan diawali mandi jinibah dilanjutkan solat taubat. Dikalangan ahli hikmah sering mempraktekkan solat taubat ini ketika merasa punya dosa besar, ada perkara yang sulit diatasi, usaha tidak maju-maju atau tidak kunjung sukses. dan salah satu penyebabnya juga bisa dikarenakan faktor kurang ahsan "baik" dengan orang tua baik yang masih hidup ataupun yang sudah wafat.

Kedua, ingatlah 3 perkara yang akan menjadi amal yang selalu mengalir kebaikannya diantaranya adalah ilmu yang bermafaat.   Ilmu yang bermanfaat tentunya harus dituntut dengan jalan yang benar, guru yang benar dan silsilah sanad keilmuan aqidah dan ahlak yang benar. Jangan sampai kita berguru hanya mengandalkan internet, ataupun kajian lewat audio/video di dunia maya. Banyak kejadian jika kita tidak berguru secara benar, apalagi belajar agama secara Otodidak. akan menimbulkan bisikan setan. Tengok saja kejadian di Karet Tengsin ada seseorang yang katanya sakti selama dua tahun tidak keluar rumah, pas coba ditanya lebih dalam beliau menyebutkan bahwa solat itu tidak penting, ada juga di wilayah Pandeglang, dia merasa dzikirnya sudah full, namun dia tidak solat sama sekali karena memahami bahwa sholat itu bermakna ingat, dzikir juga maknanya ingat. Ada lagi daerah Binong, dia cukup dengan hanya bersholawat tanpa mengerjakan sholat, waduuh macam-macam saja yaa pemahaman Nyeleneh zaman sekarang. Yang ideal adalah hasil perkawinan atau kolaborasi antara perkara syariat dengan kuatnya aqidah keyakinan disebut suluk/toriqoh/sufi.

Ketiga, diperintahkan oleh Allah untuk bersungguh-sungguh dalam perkara taubat, janji Allah pasti diterima (bagi yang bertaubat dengan sungguh-sungguh). Ada suatu ketika ulama zaman dahulu bernama Rayidin Thalib didatangi oleh seseorang yang hendak bertaubat dari zina, si pelaku ini mengaku dari dosanya itu mungkin anak hasil dosa tersebut jika dikumpulkan bisa memenuhi satu truk, kemudian sang ulama dengan bijak menasihati agar bisa bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubatan nasuha). Bersandar dari firman Allah SWT : "Wahai orang-orang yang beriman taubatlah kepada Allah dengan taubat "Nasuha". Tentunya setelah ini harus disertai dengan penyesalan yang mendalam, berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan menutup segala kegelapan itu dengan banyak berbuat kebaikan.  Firman Allah yang lain "Allah mencintai orang yang bertaubat dan yang mensucikan diri".  Dan sejalan dengan beberapa Firman Allah lainnya juga : carilah cinta Allah dengan cara bertaubat", "barang siapa yang bertaubat setelah dzolimnya ditambah dengan berbuat baik niscaya diterima taubatnya hamba tersebut dan memberi ampunan dari segala kejelekkannya", dan di Firman yang lain desebutkan "orang-orang yang bertaubat dari dosanya, seperti orang yang tidak punya dosa".

Ahli hikmah bependapat bagi siapa yang mempunyai hajat baik itu urusan dunia ataupun urusan akhirat hendaknya solat dua rokaat sebanyak 3x salam diantara setelah solat magrib dan sebelum waktu isya. yang disebut Sholat Awabin, perbanyaklah doa disetiap selesai salam/saat sujud.

Nabi Muhammad صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  bersabda : "Sesungguhnya Allah lebarkan tangan pada waktu siang bagi orang-orang yang mau bertaubat di malam hari dan Allah lapangkan tangan Nya pada waktu malam hari untuk orang yang mau bertaubat di siang hari dari mulai terbit dan tenggelamnya matahari". Hadist lain menyebutkan "Wahai manusia bertaubatlah kepada  Tuhanmu sebelum kamu mati bersegeralah dengan amal soleh dengan kalian menyibukkan diri dengan memperbanyak dzikir", Hadist lain menyebutkan "Sesungguhnya Allah akan menerima taubat hambanya sebelum nafas di ujung tenggorokan/sekarat", Di Hadist lain "Barangsiapa yang taubat kepada Allah akan diterima taubatnya"

Imam Abdullah Al-Haddad berkata ketauhuilah sesungguhnya taubat itu bukan hanya perkataan dengan lisan belaka tanpa disertai penyesalan hati dan berusaha melepaskan dosa-dosa tersebut. Para ulama menyebutkan syaratnya Taubat itu adalah : Menyesal dalam hati atas dosa yang telah berlalu, dia tidak jatuh pada dosa yang sama, berniat tidak akan kembali pada dosa yang telah lalu, dan ditambahkan syarat keempat, di dalam hal kedosaan yang ada hubungannya dengan manusia harus meminta maaf.

Ada iktibar ataupun pelajaran yang bisa diambil terkait bab taubat ini. Ada sebuah kaidah "Ar-ridho sayyidul ahkam" Keridhoan adalah pemimpimnya hukum. Ini yang dipahami oleh ulama salaf, dalam perkara sunnah bagi seorang Istri hendaknya meminta izin kepada suaminya, apakah mendapatkan ridho atau tidak, jika suami tidak ridho maka hendaknya tidak usah dikerjakan. Jika misalkanpun, lupa tidak minta izin ketika puasa sunnah, dan disaat bersamaan si suami "meminta" maka lebih wajib melayani suami, batalkanlah puasa sunah karena pahala nya lebih besar melayani suami.   Dosa juga selain dosa secara terang-terangan / sengaja, ada juga dosa yang khofi (samar tersembunyi, tidak disadari) misalkan seorang istri yang cuek kepada kebutuhan suami, sering tidak taat kepada permintaan suami (permintaan yang tidak bertentangan dengan syariat), merasa tidak pernah dibahagiakan suami, sering mengingat keburukan kesalahan suami, dan juga sebaliknya bagi kaum suami yang menelantarkan kebutuhan istri, sering membentak istri tanpa alasan, lalai dalam mengajarkan ahlak dan ilmu kepada istri dan anak, dan kesalahan-kesalahan lainnya yang sering tidak sengaja terucap. Maka bersegeralah untuk bertaubat kepada Allah SWT.

والله أعلمُ بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar