Tafsir Munir Surat Al-An'am Ayat 55-56 - Pilihan Jalan - Al-Muhibbin Indonesia

Al-Muhibbin Indonesia

Berbagi ilmu melalui catatan kuliah, catatan kerja dan Kajian Islam Ahlussunah Waljamaah.

Breaking

Selasa, 27 Juni 2017

Tafsir Munir Surat Al-An'am Ayat 55-56 - Pilihan Jalan

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Tafsir Munir, Maraah Labiid Karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani  (disampaikan oleh KH. Hidayatsyah, SE, MM, MSi - Masjid Al-Hikmah Perumnas 2 Karawaci) Surah Al-An'am Ayat 55.

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

Terjemah ayat 55: "Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa".

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ قُلْ لَا أَتَّبِعُ أَهْوَاءَكُمْ ۙ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Terjemah ayat 56: Katakanlah: "Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah". Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk"

Tafsir Al-Munir:
Ayat 55-56 : "Dan yang demikian itu kami jelaskan ayat-ayat (telah dijelaskan dalam surah ini dalil kesucian tauhid, kenabian, dan atas qodo dan qodar, maka kami jelaskan sebagai alasan dalam berikrar atas tiap-tiap hal yang benar atas kebatilan agar jelas jalan-jalan orang yang berdosa. Dan agar dijauhkan (muhammad) di atas jalan-jalan orang musyrik agar condong ke mereka. Kata  لِتَسْتَبِينَ Imam Hamzah, Kusai, Abu Bakar dari Imam 'Ashim dibaca ayastabiina sebagaimana untuk memperjelas yang haq atas perbuatan yang bisa ditolak kalau salah.



Iktibar / Pelajaran dari ayat ini
Tidak ada kebajikan yang menyalahkan hal Wajib, budaya amaliyah Tahlilan ketika ada seseorang yang wafat yang umum di Indonesia adalah suatu bentuk amalan budaya/kebiasaan yang diwarnai oleh Islam dan dikuatkan oleh dalil umum Ihdaustawab atau menghadiahkan pahala untuk orang wafat. Hal ini juga di qiyas kan amalan dibolehkannya menghajikan orang tua yang sudah meninggal, saat itu Rasulullah SAW ditanya apakah boleh? dijawab : hormatilah dengan kamu berhaji dulu baru menghajikan orang tua.

Tafir Jalalain Surah Al-An'am Ayat 55-56
Ayat 55 : (Dan demikianlah) sebagaimana yang telah Kami jelaskan sebelumnya (Kami terangkan) Kami jelaskan (ayat-ayat) Alquran untuk menampakkan yang hak kemudian diamalkan (supaya jelas) supaya menjadi terang (jalan) kelakuan (orang-orang yang berdosa) kemudian engkau menjauhinya. Dalam suatu qiraat dibaca litubayyina; menurut qiraat lainnya dibaca litastabiina. Bila lafal sabiil dibaca nashab maka pembicaraannya ditujukan kepada Nabi saw.

Ayat 56 : (Katakanlah, "Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu seru) kamu sembah (selain Allah." Katakanlah, "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu) dalam menyembah tuhan-tuhanmu itu (sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian) jika aku ikut menyembah tuhan-tuhan itu (dan tidak pula aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.")

والله أعلمُ بالـصـواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar